Warisi Tradisi Menenun Warisan Leluhur, Kain Tenun Ikat Sintang Jadi Penopang Ekonomi Keluarga

Suara alat tenun kain tradisional masih terdengar jelas di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Senin (10/7/2017) siang.

Hingga kini para wanita Ensaid Panjang masih mempertahankan tradisi budaya yang diwariskan oleh para leluhur agar tak lekang oleh perkembangan zaman.

Tanpa alat canggih, jemari para penenun sangat terampil menyelipkan satu benang ke benang lainnya.

Usai merangkai benang, sembari duduk berselonjor penenun lantas sedikit merebahkan tubuh ke belakang.

Gerakan ini membuat alat penenun yang terhubung dengan pinggang penenun menjadi tertarik berlawanan arah. Kain dan benang pun mendadak terik.

Tak ingin kehilangan momentum, kedua tangan penenun lantas menarik batang kayu tipis yang terselip di sela-sela benang ke arah atas dan bawah.

Begitu seterusnya, secara berulang kali hingga tercipta kain tenun ikat Dayak Khas Sintang berbagai pola dan motif sesuai keinginan.

Satu diantara penenun, Adriani menerangkan tidak mudah membuat kain tenun jika tidak terbiasa.

Jika salah merangkai benang, bisa saja pola yang dihasilkan tidak beraturan.

Adriana menambahkan setidaknya, puluhan ibu rumah tangga di Ensaid Panjang menggeluti tradisi tenun leluhur ini. Para penenun tergabung dalam Kelompok Penenun Burung Bayan.

Rata-rata keahlian para penenun didapat hanya bermodalkan melihat dan langsung praktek.

Menenun dilakukan guna mengisi waktu luang usai berladang dan menyadap karet sehari-hari.

Aktivitas menenun hanya boleh dilakukan pada pagi hingga sore hari.

“Malam tidak boleh menenun. Kalau pua kumbu perlu waktu sebulan baru selesai nenun-nya. Paling sering buat motif Penau Nui atau daun rotan. Ini ciri khas tenun Dayak Desah Rumpun Iban,” ungkapnya saat ngobrol dengan Tribun Pontianak.

Ibu empat anak ini mengaku menenun sejak usia 16 tahun.

Selain kain, Adriani juga membuat tenun ikat berbentuk lain seperti syal, selendang, taplak meja, sarung bantal dan kain kebaya.

Untuk syal terbilang cepat, dalam sebulan dirinya mampu menenun 12-24 syal.

“Ada juga yang minta dibuatkan sajadah dari kain tenun ikat Sintang ini,” katanya.

Kendati sampingan, aktivitas menenun dipandang mampu jadi penopang ekonomi keluarga. Kain tenun ikat punya harga jual terbilang tinggi.

Seperti satu buah syal hasil tenun dibanderol Rp 30 ribu rupiah. Untuk jenis pua kumbu berukuran besar bahkan bisa berkisar antara Rp 1,5-2 juta per kain. Kondisi ini tentu saja membantu pemenuhan kebutuhan hidup dan keperluan sekolah anak.

“Saya buat saja tiap hari. Nanti ada para pelanggan datang ke Rumah Betang Ensaid Panjang. Jarang bawa ke luar. Lumayan, satu bulan saya bisa dapat Rp 1 juta lebih. Permintaan paling ramai saat gawai Dayak,” tandasnya.

Kepala Dusun Rentap Selatan, Sembai mengakui aktivitas tenun jadi asa “lumbung uang” para ibu-ibu rumah tangga di Rumah Betang Ensaid Panjang.

Hasil penjualan kain tenun dimanfaatkan ibu rumah tangga untuk ringankan beban para suami di tengah anjloknya harga karet.

“Di sini mayoritas pekebun karet dan berladang. Nilai ekonomis kain tenun ini sangat membantu kami para Kepala Keluarga” ujarnya.

Sembai mengakui gawai Dayak jadi berkah tersendiri bagi para penenun kain.

Permintaan kain tenun meningkat.

Para pembeli bahkan memesan kain jauh hari sebelum pelaksanaan gawai.

Berbagai ragam motif dan jenis kain tenun laku keras.

“Stoknya bahkan habis. Kami semua bersyukur. Semoga ini menjadi motivasi bagi ibu-ibu untuk terus menenun. Sehingga warisan leluhur ini terus ada hingga masa-masa generasi mendatang,” harapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *